Agus Siswanto

Alumni D 3 Pendidikan Sejarah IKIPN Yogyakarta tahun 1988, pernah mengajar di Baucau Timor Timur (1989 - 1999). Kini mengajar di SMAN 5 Magelang, hobby olah rag...

Selengkapnya

Tertangkap Basah

Malam itu, di pos ronda nampak Tarman duduk bersama Budi dan Imam. Ketiganya mendapatkan jatah ronda untuk malam ini.

“ Mam. Bangun, molor saja kerjamu,” Tarman mengguncang-guncang bahu Imam.

“ Man. Kok perasaanku tidak enak ya?”

“ Enggak enak bagaimana?”

“ Perasaan ada sesuatu di rumahku,” Imam menjelaskan.

“ Tadi sudah di kunci pintu depanmu?” tanya Budi.

“ Sudah,” jawab Imam pendek. “ Perasaanku, sedang terjadi sesuatu di rumahku.”

“ Jangan-jangan istrimu Mam,” Budi mulai menggoda. Memang di kampong itu istri Imam terkenal paling cantik. Masih muda lagi. Dan yang sering membuat Imam deg-degan, agak genit

“ Ah, enggak usah mengada-ada,” bantah Imam.

“ E.. siapa tahu. He..he…he..,” Tarman terkekeh-kekeh mendengar keduanya bercanda.

“ Tapi, jangan-jangan…,” kali ini Tarman menambah apa yang dikatakan Budi.

“ Sudahlah,” Imam memutus pembicaraan. .

Setelah percakapan tadi, ketiganya terdiam lagi. Jam di dinding pos ronda menunjuk pada angka 12.35, sudah cukup malam.

“ Man, Bud. Ayo kita keliling, sambil nengok ke rumahku. Perasaan tambah tidak enak nih,” Imam bangkit mengajak Budi dan Tarman untuk keliling kampong.

“ Istrimu ya?” Budi melanjutkan godaanya.

Imam hanya diam lalu beranjak pergi.

“ He, tunggu!” suara Budi dan Tarman hampir berbarengan.

Ketiganya berjalan beriringan menyusuri jalanan kampong. Sesuai kesepakatan mereka langsung menuju rumah Imam.

Sesampai di depan rumah Imam, suasana sekitar rumah tampak sepi. Ketiganya terkesiap, melihat lampu di kamar tidur Imam hidup tapi agak remang-remang.

“ Mam, lampu kamarmu hidup,” Tarman melempar pertanyaan pada Imam yang nampak melongo.

“ Tadi sudah kumatikan.”

“ Memang biasanya kalau tidur lampu itu dinyalakan?” lanjut Tarman.

“ Tidak,” jawab Imam pendek.

“ Kok menyala?” kali ini Budi yang bertanya.

“ Diam,” kata Imam pendek. Wajahnya tampak menyimpan sesuatu. Di benaknya tiba-tiba terganggu dengan pembicaraan di pos ronda tadi tentang istrinya. “ Ayo, kita lewat belakang!” ajak Imam sambil mengendap-endap.

Tanpa dikomando Tarman dan Budi mengikuti Imam. Mereka ikut berdebar-debar, jangan-jangan apa yang mereka candakan pada Imam terjadi.

Dan benar, di belakang rumah tampak sosok manusia dalam kegelapan. Cara berjalannya yang merunduk dekat pintu dapur makin menguatkan kecurigaan ketiganya. Dengan tanpa dikomando ketiganya menyergap sosok tadi

Byur…. Keempatnya tercebur ke kolam ikan di belakang rumah. Kegelapan malam dan langkah mereka yang tergesa-gesa membuatnya kurang waspada. Dengan sigap mereka menyeret sosok tadi ke pinggir kolam, dan membawanya mendekati lampu halaman.

“ Siapa kamu?” teriak Imam. Tangannya dengan kuat mencengkeran baju sosok tadi. “ Apa yang kamu lakukan pada istriku?”lanjutnya dengan geram.

“ Tidak,” suara sosok tadi tampak gugup. Tangannya sibuk mengusap mukanya yang berlumuran lumpur.

“ Kau apakan istriku?” Imam makin kalap.

“ Aku tidak melakukan apa-apa,” wajahnya tampak mengiba.

“ Mam, coba lihat!” Tarman berteriak dari ujung kolam. Di angkatnya sebuah karung goni penuh dengan ikan nila. Sedang di begian lain,tampak jarring ikan dan senter besar.

“ O, jadi kamu maling ikan ya?” nada suara Imam agak merendah.

“ Ada apa ini?” tiba-tiba pintu dapur terbuka. Istri Imam yang tampak memakai daster mengarahkan senter pada mereka berempat. “ Lho, mas Imam. Ada apa?”

“ Ini Dik, ada orang mencuri ikan di kolam kita,”Imam menjelaskan. “ Kamu tidak apa-apa to?” lanjut Imam tampak kesan lega dalam nada suaranya. “ Sudah, masuk sana!” perintah Imam.

Kemudian ketiganya menggelandang maling ikan yang telah tertangkap basah tadi.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Keren cerpen pak, pembaca terbawa pada suatu kondisi ternyata bukan itu endingnya, makna konotasi tertangkap basah, berubah menjadi makna denotasi. Top

03 May
Balas

Thanks mas Mulya, lagi belajar.

03 May

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali