Agus Siswanto

Alumni D 3 Pendidikan Sejarah IKIPN Yogyakarta tahun 1988, pernah mengajar di Baucau Timor Timur (1989 - 1999). Kini mengajar di SMAN 5 Magelang, hobby olah rag...

Selengkapnya
Terpikat Kampung Coklat

Terpikat Kampung Coklat

Pikat-memikat nampaknya sekarang menjadi urusan penting bagi para pelaku wisata.Kemampuan berkreasi akan menjadi magnet yang luar biasa bagi siapapun. Dan jika imej sudah terbangun, jangan ditanya yang namanya fulus akan datang dengan sendirinya.

Hal inilah yang saya alami hari Sabtu kemarin. Acara reuni dengan teman-teman guru eks TimorTimur di Blitar, mengantarkan saya ke Kampung Coklat. Dan keterpikatan inipun diawali dengan rasa penasaran dengan tujuan wisata baru tersebut. Benar juga, begitu kami memasuki area wisata tersebut langsung terpikat. Sehingga kami berombonganpun betah berlama-lama di obyek tersebut.

Sesuai dengan namanya, Kampung Coklat yang telah berdiri sejak tahun 2014 ini menghadirkan aneka hal yang berkaitan dengan coklat. Stand yang dimulai dari pohon-pohon coklat, pengolahan, produk hingga kursi-kursi artistik ditambah berbagai spot foto yang luar biasa mampu memaksa pengunjung berlama-lama untuk menikmatinya.

Keterpikatan pengunjung terhadap obyek ini salah satu diantaranya adalah dengan keberadaan puluhan pohon coklat di lokasi tersebut. Suasana seakan berada di tengah hutan coklat menjadi sensasi tersendiri. Suasana teduh dan kebersihan yang selalu terjaga rasanya tidak sebanding dengan murahnya tiket masuk yang hanya lima ribu pupiah saja.Demikian juga sajian beberapa ikan nilai besar di kolam-kolam ikan menjadi tontonan yang menarik. Dan yang lebih penting, bagi penggemar coklat ini mungkin salah satu surganya coklat di Indonesia.

Urusan kreatifitas ternyata menjadi unsur utama dalam mengelola obyek wisata. Promosipun ternyata sudah bukan masalah lagi. Kepuasan dari para pengunjung akan mengalir dengan sendirinya melalui sosial media, dan gratis lagi.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

O, Pak Agus dulu pernah bertugas di Timtim juga to? Ya, Pak semua memang harus kreatif menawarkan apa pun kepada masyarakat luas termasuk wisatawan.

01 Jul
Balas

Ya pak 10 tahun.

01 Jul

Wah, saya tak suka coklat dan berbau serta makanan warna coklat. Pahit menurut rasa saya, hehehe. Sukses selalu dan barakallahu fiik

01 Jul
Balas

Wah, saya tak suka coklat dan berbau serta makanan warna coklat. Pahit menurut rasa saya, hehehe. Sukses selalu dan barakallahu fiik

01 Jul
Balas

Sama Bun, kalo anak-anak mah hobby banget.

01 Jul

Wih...Kampung coklat ? Pastinya menyenangkan foto2 di bawah pohon coklat ya...Apalagi sekarang zaman medsos..Semuanya cepat menarik dan tertarik. Jadi penasaran nih...hi..hi...Barakallah Pak.Agus..

01 Jul
Balas

Iya bu Rin, bagus tempatnya.

01 Jul

teringat di kampung Mas Siswanto, di sekeliling rumah mamak di tanami pohon coklat. Barakallah selalu sehat

01 Jul
Balas

Wah itu mah kampung coklat yang ori Abah. Salam juga dari kami.

01 Jul

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali