Agus Siswanto

Alumni D 3 Pendidikan Sejarah IKIPN Yogyakarta tahun 1988, pernah mengajar di Baucau Timor Timur (1989 - 1999). Kini mengajar di SMAN 5 Magelang, hobby olah rag...

Selengkapnya
Pengadilan bagi Garengpong

Pengadilan bagi Garengpong

Garengpong tampak terduduk lesu di meja pesakitan. Pandangan pengunjung sidang sudah cukup menghukum dirinya. Pandangan yang terkesan meremehkan itu, terasa menghancurkan segudang reputasi yang ratusan tahun dirintisnya. Operasi Tangkap Tangan (OTT) yang dilakukan oleh pihak berwajib, membuatnya kebingungan dengan tuduhan yang ditimpakan atasnya.

Penangkapan tersebut terjadi akibat aduan dari seorang penjual es campur di pertigaan desa. Pasal yang ditimpakanpun bukan main-main, penyebaran hoax atau kabar bohong. Pasal tersebut adalah pasal 28 UU ITE, dengan ancaman hukuman maksimal 6 tahun. Dan yang lebih membingungkan adalah garengpong sendiri tidak tahu apa kesalahannya.

“ Saudara garengpong, anda tahu kesalahan apa yang anda lakukan?” tanya sang Hakim.

“ Tidak yang Mulia,” jawab Garengpong.

“ Menurut pelapor, sekaligus saksi anda telah menyebarkan berita bohong,” lanjut sang Hakim.

“ Saya tidak tahu yang Mulia. Saya sendiri bingung. Minggu lalu saat saya asyik bernyanyi di pohon Mundu seberang desa, tiba-tiba saya ditangkap.”

“ Nah. Itu kesalahanmu,” sang Hakim menunjukkan jari tangan ke muka Garengpong.

“ Lha, apa hubungannya?” Garengpong makin bingung.

“ Kau tahu? Akibat dari nyanyianmu selama ini?” tanya sang Hakim.

“ Tidak,” makin bingung wajah Garengpong.

“ Karena nyanyianmulah si penjual es campur mengalami kerugian besar,” sang Hakim menjelaskan.

“ Terus?”

“ Kau tahu? Apa arti nyanyianmu?”

“ Ya. Nyanyian hamba merupakan penanda datangnya musim kemarau,” kata Garengpong.

“ Esok harinya, apa yang terjadi?” tanya sang Hakim.

Garengpong mengerutkan dahinya. Mencoba mengingat-ingat kejadian pada hari berikutnya. Namun tetap ia tidak mampu mengingatnya.

“ Esok harinya sekitar jam 10 pagi, terjadilah hujan deras hingga sore hari,” jelas sang Hakim. “ Padahal pak penjual es campur sudah menyiapkan dagangan begitu banyak, dengan harapan akan menangguk untung besar,” lanjut sang Hakim.

“ Tapi yang Mulia, itu bukan salah saya sepenuhnya,” Garengong mulai mengerti permasalahannya. Pak penjual es campur memegang nyanyiannya sebagai dasar untuk menyiapkan dagangan esok pagi. “ Biasanya pada bulan April tanggal akhir sudah memasuki musim kemarau. Dan selama ini tidak pernah salah,” Garengpong mencoba membela diri.

“ Tidak bisa. Kamu tetap bersalah, pengaduan bapak penjual es campur ini mewakili Paguyuban Pedagang Es Campur Indonesia (PPECI). Jadi jika dihitung kerugian yang menimpa mereka mungkin mencapai angka ratusan milyar,” kata sang Hakim.

“ Tapi…,’

“ Kamu dinyatakan bersalah. Dan hukuman yang dijatuhkan padamu adalah tidak boleh bernyanyi selama 3 tahun,” vonis sang Hakimpun jatuh dilanjutkan ketukan palu 3 kali. Thok…thok…thok.

Kasihan kau Garengpong, gara-gara rusaknya alam sehingga batas musim kemarau dan penghujanpun tak menentu. Nyanyianmupun berujung pada hukuman. Apes!

* Garengpung/ Tonggeret: adalah sejenis serangga yang suaranya dipercaya sebagai penanda musim kemarau di tanah Jawa.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Wow ceritanya keren, pesannya tersampaikan. Intinya adalah kerusakan lingkungan penyebab iklim yang tidak stabil. Tulisan yang sudah mengingatkan. Sehat, bahagia, dan sukses selalu.

07 May
Balas

Thanks mas Mulya.

07 May

Keren Pak, ceritanya asyik dan nonjok. Sukses selalu dan barakallahu fiik

06 May
Balas

Trims Bun. Sukses juga buat Bunda.

06 May

Kasihan Garengpong tertuduh hehe. Keren cerita nya Pak. Sukses selalu. Barakallah

06 May
Balas

Terima kasih Bu. Sukses juga buat ibu.

06 May

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali