Agus Siswanto

Alumni D 3 Pendidikan Sejarah IKIPN Yogyakarta tahun 1988, pernah mengajar di Baucau Timor Timur (1989 - 1999). Kini mengajar di SMAN 5 Magelang, hobby olah rag...

Selengkapnya

Ketemu Mantan

Wajah Siti yang semula cerah mendadak berubah menjadi gelap. Hal ini jauh berbeda dengan ketika Ia dan Karyono memasuki cafe ini. Perasaan senang karena untuk pertama kali Karyono mengajaknya masuk cafe, sekarang sudah tidak ada lagi. Tingkah tengil Karyonolah yang merusak suasana ini.

“ Bu, sebentar ya? Aku temui orang itu,” begitu pamit Karyono pada Siti setelah menulis pesanan makanan dan minuman. Dan Karyono tanpa menunggu jawaban Siti, langsung melesat ke ujung cafe.

Pandangan Sitipun kontan megikuti arah yang dituju Karyono. Dan inilah yang melahirkan mendung tebal di raut wajah Siti. Karena di ujung sana, Karyono menemui sesosok perempuan cantik. Kalau ditaksir umurnya tidak jauh berbeda dengan Siti. Namun dari penampilannya yang begitu menawan, dapat dipastikan ia orang kaya. Badan dan wajahnya yang nampak berseri cemerlang menunjukkan ia seorang pelanggan tempat perawatan wajah yang mahal.

Pemandangan selanjutnya semakin mengiris-iris hati Siti.Dilihatnya Karyono bercengkerama akrab dengan perempuan tadi. Sesekali tawa lepas mereka berdua nampak keluar dengan entengnya. Duh, tambah remuk rasanya hati Siti. Ingin rasanya Siti melabrak kedua orang tadi, tapi ia tidak mempunyai nyali untuk melakukannya.

“ Bu, kenalkan. Ini mantanku,” tiba-tiba suara Karyono muncul di depan Siti. Dan ketika Siti mengangkat wajah, perempuan cantik tadi sudah berdri di depannya. Wajahnya yang cantik nampak semakin kelihatan cantik ketika ia tersenyum lebar ke arah Siti. Hal ini justru membuat Siti gelagapan.

“ Siti,” jawab Siti dengan gugup. Disambutnya tangan perempuan tadi dengan gemetar. Sementara wajah mendungnya masih belum berubah.

“ Lina,” suara merdu perempuan itu membuat Siti makin salah tingkah. Suara merdu yang ditingkah senyum menawan menmabah dalam luka Siti.

“ Kenapa Bu? Sakit?” Karyono menatap tajam wajah Siti.

“ Tidak.”

“ Ibu sakit?” kali ini perempuan cantik bernama Lina tadi yang bertanya. Tangan lembutnya mencoba memegang tangan Siti.

Dengan cepat Siti menarik tangannya. Dan ia beranjak berdiri, kali ini matanya berubah merah, petanda marah. “ Anda siapa? Ini suami saya,” suara Siti mulai meninggi.

“ Lho, memangnya ada apa?” perempuan cantik tadi kebingungan. Pandangannya beralih pada Karyono di sampingnya.

“ Jangan coba merebut suami saya!” ancam Siti.

“ Bu, sabar Bu,” Karyono membujuk Siti.

“ Enggak ada sabar-sabaran.”

“ Bu Lina ini, dulu mantan boss Ayah waktu belum menjadi pegawai negeri. Waktu itu Ayah bekerja sebagai supir di keluarga Bu Lina,” Karyono menjelaskan agak panjang.

“ Jadi..,” Siti tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Sebab segalanya menjadi gelap saat itu. Siti pingsan.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Ternyata mantan boss.... owalah karyono... bikin siti pingsan lagi...hi..hi..hi

08 Jul
Balas

Wah, hati hati , kasihan Siti sampai pingsan Pak, hehehe. Pasti cemburunya sampai ubun ubun Pak. Sukses selalu dan barakallahu fiik

08 Jul
Balas

Barakallah Bun

08 Jul

Hi..hi...Siti..Siti...Pengin nabok Pak Karyono...

08 Jul
Balas

Bu Rini sehat kan. Kalau ke Kebumen insya Allah saya mampir. Yang penting diberi alamat.

08 Jul

Ok Pak...

08 Jul

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali