Agus Siswanto

Alumni D 3 Pendidikan Sejarah IKIPN Yogyakarta tahun 1988, pernah mengajar di Baucau Timor Timur (1989 - 1999). Kini mengajar di SMAN 5 Magelang, hobby olah rag...

Selengkapnya

Inkonsistensi Sikap Orang Tua Calon Siswa (Penolakan Terhadap Sistim Zonasi)

Pada sebuah tajuk rencana sebuah surat kabar nasional sekitar 3 minggu yang lalu, saya temukan sebuah tulisan menarik. Tulisan yang mencoba untuk mengurai benang ruwet sistim zonasi. Pada prinsipnya tulisan tadi terkesan menyalahkan para orang tua calon siswa yang menentang penerapan sistim zonasi dalam PPDB.

Pandangan surat kabar tersebut gunakan jelas menimbulkan pertanyaan besar. Di saat semua orang mendukung penolakan terhadap sistim zonasi, ternyata justru sang surat kabar menyalahkan orang tua. Ternyata pandangan tersebut dikaitkan dengan sikap yang ditunjukkan oleh para orang tua, saat pemerintah melalui Kementrian Pendidikan mencoret nilai Ujian Nasional sebagai penentu kelulusan peserta didik. Saat hal itu diumumkan, tidak ada reaksi penolakan sama sekali. Sebagian besar orang tua justru bersyukur, karena sang buah hati tidak lagi dibebani dengan Ujian Nasional.

Para orang tua tidak menyadari, bahwa penghapusan tersebut secara tidak langsung akan berkaitan dengan penerimaan calon peserta didik baru. Jika nilai Ujian Nasional tidak menjadi komponen penentu kelulusan, otomatis nilai Ujian Nasionalpun tidak otomatis menjadi syarat masuk pada jenjang pendidikan di atasnya. Karena secara akal sehat nilai Ujian Nasional yang dicapai siswa tidak sepenuhnya menggambarkan kemampuan siswa itu sendiri. Bagaimana tidak, sebab dengan nilai Ujian Nasional tidak menentukan kelulusan, maka bagi sebagian siswa kita pengerjaan soal-soal Ujian Nasional tidak sengotot saat nilai Ujian Nasional dijadikan sebagai komponen penentu kelulusan.

Benang merah inilah yang para orang tua tidak sadari. Sikap keras penolakan mereka seakan menunjukkan ego sektoral mereka. Ketakutan sang anak tidak mendapatkan sekolah sesuai keinginanlah yang akhirnya didahulukan. Karena begitu aturan jarak yang digunakan, mereka berbalik meminta nilai Ujian Nasionallah yang dijadikan dasar penentuan diterima atau tidaknya calon siswa di sekolah yang diharapkan. Gambaran sikap semacam inilah yang ternyata diusung surat kabar tersebut.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Perlu penjelasan yang sejelas-jelasnya kepada masyarakat agar hal semacam itu tidak terjadi lagi, ya Pak?

10 Jul
Balas

Betul Pak. Ini mirip jebakan batman. Nuwun pak Edi.

10 Jul

Begitulah Pak. Manusia kadang hanya mendahulukan keinginannya saja. Sesuatu yang baru tdk dipelajari dan dan ditelaah segi positifnya. Tapi hanya disorot negatifnya saja. Semoga masyarakat segera menyadari ttg berliterasi dlm menghadapi sesuatu masalah ya Pak. Salam sukses

10 Jul
Balas

Ya begitulah kita. Giliran menguntungkan, kita manggut-manggut. Giliran merugikan, kita bersungut-sungut. Terima kasih Bun, kunjungannya.

10 Jul

Mantap pak

10 Jul
Balas

Terima kasih sudah mampir di lapak saya.

10 Jul

Begitulah Pak masyarakat kita....Bijak-bijaklah kita menyikapinya. Salam literasi. Semangat

10 Jul
Balas

Betul..betul...betul. Makasih bu Eva.

10 Jul

Luar biasa mas, salam literasi

10 Jul
Balas

Wah biasa di luar kok, he..he.. Salam juga.

10 Jul

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali