Agus Siswanto

Alumni D 3 Pendidikan Sejarah IKIPN Yogyakarta tahun 1988, pernah mengajar di Baucau Timor Timur (1989 - 1999). Kini mengajar di SMAN 5 Magelang, hobby olah rag...

Selengkapnya
Inikah Keadilan?

Inikah Keadilan?

Tulisanku kali ini merupakan salah satu curhat dari seorang teman sore tadi. Karena kebetulan aku seorang guru, maka ia menyampaikan padaku. Ia merasa aku lebih memahami permasalahan ini.

Cerita bermula dari kejadian sekitar setahun yang lalu. Saat itu ia memindahkan anak semata wayangnya ke sebuah SD di kota. Pertimbangannya sangat sederhana, agar si anak nanti dapat masuk di SMP favorit di kota. Kebetulan si anak termasuk istimewa dalam masalah akademis. Dan sudah menjadi rahasia umum, bahwa sekolah yang dituju adalah sekolah yang langganan juara baik tingkat propinsi maupun nasional.

Aturan yang berlaku saat itu, bagi siswa yang berasal dari SD di kota akan mendapat tambahan poin. Belum lagi ditambah dengan beberapa piagam penghargaan yang dimilkinya, ia berharap mampu membawa sang anak ke sekolah idaman. Dan sejak itu, dengan bersusah payah ia mengantar dan menjemput sang anak di SD tersebut. Cuaca panas dan hujan tidak menghalangi tekadnya. Demi sang anak, apapun dia lakukan. Luar biasa, pikirku.

Dasar memang anak yang cerdas, walaupun pindah ke kota, prestasinya tidak menurun. Isi otaknya tidak kalah dibandingkan anak kota. Dalam hati temanku timbul harapan yang cerah, basah keringat dan rasa lelah terhapus dengan apa yang anaknya berikan. Sebuah pengorbanan yang tidak sia-sia.

Harapan yang telah menggunung ini ternyata sirna seketika. Apalagi kalau bukan karena munculnya aturan zonasi dalam penerimaan siswa baru di tahun ini. Ukuran jarak rumah tinggal dengan sekolahlah yang dijadikan pertimbangan utama dalam penerimaan siswa baru, masalah prestasi akademik berada pada pertimbangan ke 3 atau 4. Dengan persyaratan ini,jelas sang anak tidak dapat masuk ke SMP favorit. Jarak antara rumah dengan SMP yang dituju dengan jarak tempuh 30 menit jelas sangat kecil peluangnya. Padahal aturan siswa dari zona 1 minimal 90% dari kuota yang ada.

Kenyataan inilah yang tengah dihadapi temanku dan anaknya. Dia minta saran padaku, sedang aku hanya termangu-mangu. Mau bilang apa?

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Sistem zonasi sebenarnya bertujuan untuk menghilangkan stiga sekolah unggulan dan nonunggulan, dengan catatan fasilitas sarana dan prasarana pendidikan dan kualitas guru harus mumpuni disetiap sekolah. Memposisikan semua siswa memiliki hak yang sama untuk bersekolah dimanapun. Selain itu mencegah terjadinya tawuran karena tidak melintasi sekolah lain saat pulang dan pergi bersekolah. Lalu bagaimana jika ada kasus siswa yang berprestasi, seharusnya ada pengecualian untuk itu atau si anak sekolah ditempat yang terdekat, jika pintar ibarat berlian. Dimanapun sekolah akan menjadi berlian. Saya di madrasah alhamdulillah belum terkena zonasi, itu hanya berlaku untuk sekolah dibawah dinas pendidikan

14 May
Balas

Ya betul mas Mulya.Namun yang menjadi pemikiran kita, mengapa untuk meningkatkan pendidikan kita harus membongkar bangunan yang telah ada. Bukankah itu menjadi hal yang justru kontra produktif.

14 May

Peraturan di Negri kits ini banyak yang tidak baku. Masih bisa diajukan ke MK tahun depan . Barakallah Saudaraku sehat selalu

14 May
Balas

Moga-moga ada perubahan yang lebih baik.

14 May

Kabarnya aturan terbaru anak guru gak dapat poin.

14 May
Balas

Benar pak.

14 May

Mau bilang apa kalau aturannya seperti itu.... sukses pak Agus.. barakallah

14 May
Balas

Akhirnya hanya bilang yah....

14 May

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali