Agus Siswanto

Alumni D 3 Pendidikan Sejarah IKIPN Yogyakarta tahun 1988, pernah mengajar di Baucau Timor Timur (1989 - 1999). Kini mengajar di SMAN 5 Magelang, hobby olah rag...

Selengkapnya

Dung!

Mengingat puasa masa kecil selalu menjadi obrolan yang sangat menarik di antara kita. Terutama perbincangan dengan teman-teman yang sebaya atau seumur. Jangan coba-coba diceritakan pada anak-anak kita atau orang yang tidak sejaman. Sebab dijamin tidak akan nyambung.

Dari berbagai pembicaraan yang mengalir hangat pasti akan berputar pada kebiasaan-kebiasaan kita, perilaku membatalkan puasa, makanan-makanan favorit dan perilaku usil saat mengikuti shalat Tarawaih. Dan yang mengherankan kita dengan bangga menceritakan semua itu. Tentu saja diselingi dengan gelak tawa membayangkan momen-momen tersebut. Ah, indahnya dunia anak-anak.

Dahulu di kota kami ada satu tradisi yang selalu menyita perhatian menjelang buka puasa. Dan mungkin hal ini terjadi pula di wilayah lain. Tradisi itu sering kami sebut dengan istilah dung. Yaitu saat sebuah mercon besar dinyalakan di aloon aloon sebagai penanda saat berbuka puasa. Suara mercon yang demikian besar terdengar hampir di segenap penjuru kota kecil kami. Dan yang membuat meriah suasana saat itu, sebagian penduduk kota berbondong-bondong ke aloon-aloon hanya untuk menyaksikan mercon tersebut dinyalakan. Begitu dung, kontan kami berlomba melemparkan makanan yang sudah kami siapkan ke mulut masing-masing.

Sejalan dengan perkembangan jaman, tradisi inipun menghilang. Kemajuan tehnologi membuat kita cukup duduk di depan televisi untuk menunggu adzan Maghrib. Atau kalaupun tidak, suara adzan dari masjid dan musholla di sekitar kita pasti juga akan memperdengarkan adzan Maghrib.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Nek di Gunungkidul Deng.. Kanon dari Kraton Solo.

10 May
Balas

Beda e sama u, ning pada.

10 May

Wah ada yah pak, saya mah waktu kecil nunggu beduk yang menandakan waktu magrib tiba. Tulisan tentang budaya saat berbuka yang unik. Sehat, bahagia, dan sukses selalu. Barakallah

10 May
Balas

Sama-sama mas Mulya

10 May

Benar Pak, betapa indahnya masa kecil. Sukses selalu dan barakallahu fiik

10 May
Balas

Semua tinggal kenangan. Salam Bun.

10 May

Memori masa kecil selalu menyisakan kenangan tersendiri dalam hidup apalagi bila jadi cerita bagi anak-anak, seru jadinya. Jadi baper memori jadul. Inspiratif sekali pak Agus, barakallah sukses selalu.

10 May
Balas

Kadang jadi pengin kecil lagi. Salam juga.

10 May

Lain di Magelang lain pula di Kudus...Kalau di Magelang "dung" sedangkan di Kudus "nduul".. salam sehat pak Agus. Barakallah

10 May
Balas

O, hampir sama dong. Salam juga Bun, wah puisinya mak nyus je!

10 May

He...he...he

10 May

Lebih indah masa kecil ya pak, bisa melakukan hal yang mereka mau tanpa rasa malu dan penuh canda tawa, sukses selalu pak.

10 May
Balas

Ya, tentu saja. Salam bahagia.

11 May

Tulisan yang bagus Pak

10 May
Balas

Thanks pak.

10 May

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali