Agus Siswanto

Alumni D 3 Pendidikan Sejarah IKIPN Yogyakarta tahun 1988, pernah mengajar di Baucau Timor Timur (1989 - 1999). Kini mengajar di SMAN 5 Magelang, hobby olah rag...

Selengkapnya

Bukan Karena Ayah Tidak Sayang Kamu

Tiga lembar brosur penawaran produk sepeda motor dari produk berbeda tersebar di atas meja. Sedangkan di sampingnya tergeletak pula selembar kertas putih penuh dengan coretan berupa deretan angka.

“ Ayolah, Yah! Anto pingin yang ini,” suara Anto memecah keheningan. Sementara di tangannya memegang salah satu brosur tersebut.

“ Sebentar, Tok. Ayah masih harus menghitung lagi,” jawab pak Darko.

“ Tunggu apa lagi?” lanjut Anto.

“ Ayah kan harus menghitung dengan cermat,” ulang pak Darko.”Apalagi motor bekas ayah kan masih bisa dipakai,” lanjutnya.

“ Tapi Yah. Teman-teman Anto sudah pada ganti,” desak Anto.

Pak Darko hanya terdiam. Kerut di keningnya yang makin tebal menunjukkan ia masih berfikir keras. Ballpoint di tangannya tak henti-henti diketuk-ketukkan ke meja. Ada bimbang di dalam hatinya. Anto adalah anak semata wayangnya hasil perkawinan dengan Hesti. Di sisi lain, sebagai pegawai rendahan gajinya terbilang pas-pasan.

“ Lagi pula Ayah kan pernah janji waktu kenaikkan kelas kemarin,” desak Anto lagi. Ucapan itu memaksa pak Darko membongkar ingatannya kembali. Dan benar ia memang pernah menjanjikan hal itu pada Anto. Tapi janji itu sebenarnya hanya sekedar untuk membujuk Anto yang saat itu ngambek.

Kembali pak Darko menekuri coretan-coretan angka di kertas putih itu. Entah sudah coretan yang ke berapa, namun tombol-tombol di kalkulator tuanya tidak pernah memberikan jawaban yang menyenangkan. Pilihan yang selalu muncul adalah jurus pengetatan ikat pinggang yang lebih erat dan lama jika menuruti kemauan Anto.

* * *

Lamat-lamat suara alunan ayat suci Al Qur’an dari pengeras suara membelai telinga pak Darko. Pikiran yang membawanya ke peristiwa bebarapa hari silam secara pelan kembali pada kenyataan yang tengah dihadapi. Tatap kosong matanya terpaku pada keranda yang tertutup dengan kain hijau dengan hiasan berbagai bunga. Di dalam keranda itu terbujur tubuh anaknya, Anto.

Kejadian tragis sore kemarin mengantar Anto menghadap Allah SWT lebih cepat. Kondisi hujan lebat, jalan licin dan berkelok menjadi paduan sempurna menghentikan jalan kehidupan Anto. Kecepatan tinggi pada sepedamotor pinjaman yang dipacunya membuat ia kehilangan keseimbangan.

“ Tok, bukan karena Ayah tidak sayang kamu,” lirih suara pak Darko di samping keranda.

Magelang, 15 April 2019, 21.24 WIB.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Pingin motor baru! Yes pak

16 Apr
Balas

Innalillahi wainnailaihi raji'un. Semoga almarhum husnul khotimah. Turut berduka cita pak.

16 Apr
Balas

Makasih. Ini hanya peringatan buat kita semua.

16 Apr

Oh terharu dibuatnya. Setiap orang tua selalu punya pertimbangan dan keterbatasan yang kadang anak tidak bisa memahaminya. Semangat menulis, barakallah sukses selalu.

16 Apr
Balas

Terima kasih, sudah mampir.

16 Apr

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali