Agus Siswanto

Alumni D 3 Pendidikan Sejarah IKIPN Yogyakarta tahun 1988, pernah mengajar di Baucau Timor Timur (1989 - 1999). Kini mengajar di SMAN 5 Magelang, hobby olah rag...

Selengkapnya

Bukan Indri yang Dulu

Tujuh tahun kemudian.

Sebuah mobil rental nampak berhenti di samping rumah Dina. Tak lama berselang, keluar sosok perempuan dengan baju gamis dan hijab sederhana. Sementara di belakangnya, menyusul perempuan tua dengan menenteng tas pakaian ukuran sedang.

“ Siapa Din?” tanya seorang lelaki pada Dina yang melongok ke pintu.

“ Enggak tahu,” kepalanya bergerak-gerak mencoba memastikan siapa yang datang.

“ Siapa?” tanya laki-laki itu lagi.

“ O, rupanya si residivis itu sudah bebas,” nada suara Dina nampak tidak senang.

“ Indri, maksudmu. Perempuan yang sering kauceritakan itu?”

“ Benar. Bisa kacau lagi kampung kita ini,” nada suara Dina masih menunjukkan rasa tidak senang. Rupanya ketidaksukaannya pada Indri belum juga pupus.

“ O, nak Indri. Sudah pulang to?” tiba-tiba suara pak RT yang kebetulan lewat mengejutkan Indri dan Ibunya.

“ Alhamdulillah, sudah Pak,” jawab Indri dengan sopan.

“ Semuanya baik-baik saja kan?” tanya pak RT lagi.

“ Nggih Pak. Mohon doanya saja Pak,” jawab Indri.

“ Yah, maaf ini mau ke warung sebentar. Ayo,” Pak RTpun beranjak mennggalkan keduanya.

Selepas dari LP perubahan Indri sangat kentara. Bimbingan rohani selama di LP membuatnya menjadi pribadi yang berbeda. Bahkan ia telah aktif dalam kegiatan masjid yang dahulu tidak pernah diinjaknya, kecuali pada hari raya.

Perubahan ini ternyata tidak mengubah sikap Dina dalam menilai Indri. Cap sebagai residivis selalu diungkit-ungkitnya dalam setiap pertemuan dengan siapapun. Di mata Dina, perubahan pada Indri dianggapnya sebagai sandiwara besar. Namun sikap tersebut tidak mengubah perlakuan Indri terhadap Dina. Sikap Indri lebih banyak bersabar dalam menghadapi segala ucapan dan perilaku Dina terhadapnya.

Pada suatu hari, terjadi sebuah peristiwa yang membuat Dina kehilangan muka. Saat itu Dina berkesempatan menghadiri reuni teman kuliah suaminya di sebuah hotel berbintang di kotanya. Sebagai orang sukses, tidak heran jika suami Dina mempunyai banyak kolega yang highclass. Sehingga Dinapun terbawa dalam suasana tersebut. Dasar Dina orangya supel, dalam suasana yang semacam ini ia mampu cair di dalamnya. Senda guraunya dengan kawan maupun istri teman suaminya begitu lepas.

“ Hadirin, mohon kembali ke tempat duduk masing-masing,” tiba-tiba suara MC menyeruak di antara senda gurau peserta reuni. ” Dalam rangka untuk memberikan arti dalam pertemuan kali ini. Marilah kita dengarkan tausiyah menarik dari ustadzah yang sengaja kita hadirkan. Bagi rekan-rekan yang pernah tinggal di Yogyakarta, pasti sudah mengenal dengan baik. Baiklah kita sambut ke hadirannya,” lanjut MC yang disusul dengan tepuk tangan meriah dari peserta reuni.

Dari balik panggung, muncullah sosok perempuan dengan baju gamis dan hijab hijau tosca. Senyum ramahnya tersungging di bibirnya seakan memberikan kesejukkan pada peserta reuni.

‘ Bismillahirrohmanirrohim. Assalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh,” suara beningnya mengalun di tengah ruangan ber AC tersebut.

“ Lho..lho..itu kan Indri,” tergagap suara Dina dari kursi paling depan. Mukanya mendadak menjadi panas, sikap duduknyapun menjadi tak senyaman tadi.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

oke...wajah Indri bisa berubah jadi ratusan bentuk. Salam ok.

09 Jun
Balas

Yes.

09 Jun

Terbukti bahwa tak selamanya orang itu akan berperilaku buruk. Bagus sekali cerita Pak Agus.

09 Jun
Balas

Wk..wk..pak Edi. Kolaborasi baru nih. Sebentar mau kondangan dulu, siapa tahu ketemu Indri.

09 Jun

Siapa pun bisa berubah ketika Allah menghendaki. Sukses selalu dan barakallahu fiik

09 Jun
Balas

Ya Bun.

09 Jun

Wah..lanjutan cerpen dilihat dari sisi pertobatan seorang anak manusia...Mantap Pak Agus.. Salam sehat dan bahagia..Barakallah...

09 Jun
Balas

Bu Rini bisa saja. Salam sehat juga buat jenengan.

09 Jun

Bu Rini bisa saja. Salam sehat juga buat jenengan.

09 Jun

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali